Harga BBM Melonjak, Skuter Listrik Asal China Panen Untung di Asia Selatan

Lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik AS-Israel dan Iran memicu pergeseran moda transportasi di kawasan Asia Selatan. Warga di India, Pakistan, serta Bangladesh kini mulai meninggalkan motor konvensional dan beralih menggunakan motor listrik asal Negeri Tirai Bambu demi memangkas ongkos perjalanan sekaligus menghindari antrean panjang.

Angka pengirimannya pun tercatat sangat tinggi. Pada Agustus lalu, volume ekspor skuter listrik asal China ke India melonjak hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, lonjakan ekspor menuju Pakistan mencapai 291 persen, sedangkan Bangladesh mencatatkan kenaikan fantastis hingga 553 persen. Sebelumnya pada Maret hingga April, warga Bangladesh bahkan sempat harus mengantre selama 8 hingga 10 jam hanya untuk mendapatkan bensin, membuat motor listrik menjadi solusi utama.

Kehadiran kendaraan ramah lingkungan ini turut memberikan dampak sosial, terutama bagi kaum perempuan di Pakistan dan Bangladesh yang kini lebih leluasa bepergian. Pengeluaran operasional kendaraan listrik ini tercatat hanya sepersepuluh dari biaya bahan bakar motor konvensional, dengan banderol harga yang kompetitif dan bahkan lebih terjangkau dibanding sebagian motor bensin. Alhasil, semakin banyak perempuan yang mampu memiliki moda transportasi pribadi dan mandiri tanpa harus mengandalkan angkutan umum atau taksi online.

Meski demikian, di balik keuntungan besar tersebut, terdapat persaingan geopolitik yang membayangi. Pemerintah India mulai menunjukkan kekhawatiran dan berupaya mengembangkan sektor kendaraan listrik mandiri guna menghindari ketergantungan terhadap produk China. Di sisi lain, China telah lama mendominasi teknologi baterai mutakhir dan sempat memberlakukan pembatasan ekspor untuk komponen tersebut. Situasi ini menunjukkan bahwa fenomena ini melibatkan perebutan pengaruh dalam industri masa depan.

Sumber: BBC News Indonesia | China meraup keuntungan dari tren motor listrik di India, Pakistan, dan Bangladesh | Tony Han | 1 November 2026 | ilustrasi AI