Ibu kota Prancis yang tersohor sebagai pusat mode mendadak mencekam akibat kerusuhan. Unjuk rasa besar yang semula menuntut perbaikan biaya hidup serta layanan publik justru bergeser menjadi aksi anarkis, pembakaran, dan penjarahan toko-toko.
Berdasarkan informasi dari AFP, detikNews, serta CNN Indonesia, aksi protes ini digerakkan oleh berbagai kalangan, salah satunya pelajar yang menyoroti sektor pendidikan. Mereka mengangkat isu kenaikan biaya hidup, mahalnya harga bahan bakar, kesenjangan sosial, serta fasilitas publik yang dinilai kurang optimal.
Kondisi kian tak terkendali di beberapa wilayah. Para perusuh merusak fasilitas umum, membakar kendaraan, serta menjarah gerai dan butik mewah. Kota Lyon mencatat insiden terbakarnya kantor pariwisata, sementara balai kota di Marseille dan Lille turut mengalami kerusakan.
Aparat keamanan bertindak dengan menembakkan gas air mata serta mengerahkan meriam air untuk memukul mundur massa. Merujuk pada catatan detikNews per 18 Oktober, Menteri Dalam Negeri Prancis mengonfirmasi ada sekitar 550 ribu peserta aksi di seluruh wilayah, sementara pihak serikat pekerja CGT memprediksi angka partisipasi menyentuh 800 ribu orang. Dilaporkan pula bahwa sekitar 1.200 individu telah diamankan pihak berwajib.
Walaupun sebagian besar massa turun ke jalan secara tertib, tindakan kekerasan oleh segelintir oknum membuat eskalasi tuntutan terhalangi oleh kerusakan fisik. Kejadian ini memunculkan tanda tanya terkait langkah pemerintah Prancis dalam menghadapi desakan publik mengenai biaya hidup dan layanan masyarakat.
Sumber: detikNews | Mengapa Demo di Paris Rusuh hingga Massa Menjarah Brand Mewah | Yulida Medistiara | 18 Oktober 2026 | ilustrasi AI

Leave a Reply