Beneran Lagi Tren Downgrade Lifestyle? Kelas Menengah Indonesia Mulai Selektif Belanja

Pernah nggak, dulu rutin ngopi di kafe, beli barang bermerek, atau makan di luar beberapa kali seminggu, tapi sekarang mulai memilih versi yang lebih murah? Fenomena ini dikenal sebagai downgrade lifestyle dan sedang ramai dibicarakan di Indonesia.

Downgrade lifestyle adalah kebiasaan menurunkan pengeluaran atau mengganti pilihan konsumsi agar lebih sesuai dengan kondisi keuangan. Contohnya, kopi kafe diganti kopi rumahan, produk mahal beralih ke merek yang lebih terjangkau, naik transportasi umum, sampai mengurangi frekuensi liburan dan makan di restoran.

Namun, perubahan ini bukan selalu berarti seseorang mendadak ingin hidup sederhana. Bagi sebagian orang, keputusan tersebut merupakan cara menjaga keuangan ketika harga kebutuhan terus terasa berat, sementara penghasilan belum tentu naik sebanding. Beban cicilan, biaya pendidikan, kebutuhan rumah tangga, hingga ketidakpastian pekerjaan juga bisa membuat anggaran makin ketat.

Dampaknya bukan cuma dirasakan konsumen. Kalau banyak orang mengurangi belanja nonpokok, bisnis seperti kafe, restoran, ritel fesyen, hiburan, dan pariwisata juga berpotensi ikut terdampak. Sebaliknya, produk ekonomis dan layanan yang menawarkan harga lebih terjangkau bisa semakin dilirik.

Meski begitu, tren ini tidak otomatis membuktikan semua masyarakat mengalami penurunan daya beli. Ada yang memang sedang mengatur prioritas keuangan, tetapi ada juga yang terpaksa memangkas pengeluaran karena tekanan ekonomi.

Menurut kamu, downgrade lifestyle ini pilihan hidup yang lebih bijak atau tanda biaya hidup makin menekan?

Sumber: The Conversation Indonesia | Downgrade lifestyle: adaptasi masyarakat untuk bertahan hidup | penulis perlu diverifikasi dari halaman asli | 12 Oktober 2026 | ilustrasi AI